Edisi Bogor — 29 October 2026 • PemerintahWisataKuliner
Subscribe Sign In
Berita dan Review Bogor | Sejak 2020

Survei SMRC: Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen, Terendah Sejak Menjabat

Survei SMRC: kepuasan publik ke Presiden Prabowo anjlok ke 44,5 persen, terendah sejak menjabat.

Yuni Indriani · 19 October 2026, 12.30 WIB
Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen, Terendah Sejak Menjabat
Kepuasan Publik ke Prabowo Anjlok ke 44,5 Persen, Terendah Sejak Menjabat

Reviewbogor.com- Menjelang genap dua tahun pemerintahan, kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto menyentuh titik terendahnya. Dalam kurang dari setahun, kepuasan publik pada kinerja Presiden Prabowo turun dari 81,2 persen pada November 2025 menjadi 44,5 persen pada Oktober 2026, sementara kelompok yang kurang atau tidak puas naik dari 16 persen menjadi 53,4 persen.

Temuan itu berasal dari survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kinerja Dua Tahun Presiden Prabowo”. Survei dilakukan pada 1 sampai 10 Oktober 2026 dan dipaparkan Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, lewat kanal YouTube SMRC TV pada Jumat, 16 Oktober 2026.

BACA JUGA: Fenomena “Mantab” Makin Terlihat, Porsi Tabungan Masyarakat Menyusut

Tren Turun Empat Kali Berturut-turut

Penurunan ini bukan kejutan sesaat. Angkanya merosot terus: 81,2 persen pada November 2025, 66,4 persen pada Februari-Maret 2026, 51,1 persen pada Juli 2026, lalu 44,5 persen pada Oktober 2026. Untuk pertama kalinya pula, mayoritas warga menyatakan kurang atau tidak puas terhadap kinerja presiden.

SMRC mensurvei 1.213 responden, yakni warga negara Indonesia berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Margin of error survei diperkirakan sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Jika dibandingkan dengan presiden sebelumnya, kepuasan terhadap Prabowo menjelang dua tahun pemerintahan tercatat 22,5 poin persentase lebih rendah dibanding SBY pada periode yang sama.

Ekonomi Jadi Faktor Kunci

SMRC mengaitkan anjloknya kepuasan dengan memburuknya persepsi warga. Menurut Deni, penurunan berhubungan dengan penilaian publik yang memburuk atas kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum. Di kelompok warga yang menilai ekonomi nasional baik, 87 persen puas dengan kinerja presiden, sedangkan di kelompok yang menilai ekonomi buruk, yang puas hanya 23 persen.

Program unggulan juga ikut tertekan. Kepuasan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) turun drastis dari 62,5 persen pada November 2025 menjadi 33,8 persen pada Oktober 2026.

Dampaknya merembet ke elektabilitas. Dalam simulasi semi terbuka SMRC, elektabilitas Prabowo turun dari 33,3 persen pada Februari-Maret 2026 menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026.

BACA JUGA: PHK Jawa Barat 2026 Tertinggi di Indonesia, 13.044 Pekerja Terdampak

CSIS: Ada Tiga Penyebab Utama

Kepala Departemen Politik dan Sosial CSIS, Arya Fernandes, membedah tren ini dalam diskusi di Universitas Paramadina, Sabtu (17/10/2026). Ia menyebut tiga penyebab utama, yaitu expectation gap, performance gap, dan trust deficit. Artinya, ada jarak antara harapan publik dan kenyataan, kinerja yang dinilai belum sesuai ekspektasi, serta menurunnya kepercayaan.

Arya juga menyoroti anomali anggaran. Menurutnya, meski pemerintah mengalokasikan ratusan triliun rupiah untuk MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, publik secara agregat justru tidak puas dengan kinerja pemerintahan.

Ia memperingatkan kepuasan bisa turun di bawah 30 persen jika persoalan seperti karhutla, penambahan kabinet, pelemahan IHSG, dan kasus korupsi terus terjadi. Namun, kepuasan masih bisa rebound bila pemerintah memperbaiki kinerja menteri, mengevaluasi program strategis, mengembalikan dana transfer ke daerah, dan membenahi ekonomi. Arya juga menilai komunikasi publik perlu dibenahi, mengingat dalam dua tahun sudah terjadi tiga kali pergantian pimpinan bidang komunikasi pemerintah.

Survei Lain Tunjukkan Angka Berbeda

Tidak semua lembaga mencatat angka serendah SMRC. Survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis Minggu (18/10/2026) menunjukkan 65,4 persen responden puas dengan kinerja pemerintahan Prabowo, sementara 32,5 persen tidak puas. Survei PPI digelar 26 September sampai 6 Oktober 2026 lewat wawancara tatap muka terhadap 1.200 responden di 38 provinsi.

Meski begitu, arah tren dari sejumlah lembaga cenderung serupa. Poltracking Indonesia mencatat kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran sebesar 55,1 persen pada Agustus 2026, turun dari 78 persen pada Oktober 2025. Sebelumnya, Indopol mencatat kepuasan terhadap kinerja Prabowo hanya 59,75 persen dalam survei 26 Mei sampai 1 Juni 2026.

Sikap Pemerintah

Pemerintah sebelumnya sudah merespons tren penurunan ini. Saat SMRC merilis angka 51,1 persen pada Juli lalu, Mensesneg Prasetyo Hadi menegaskan pemerintahan Prabowo bekerja untuk kepentingan masyarakat, bukan mengejar hasil survei. Ketika itu, Wakil Ketua DPR sekaligus Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebut hasil survei sebagai masukan yang bisa menjadi bahan evaluasi pemerintah.

Hingga artikel ini ditulis, belum ditemukan tanggapan resmi Istana terkait rilis SMRC terbaru edisi Oktober 2026.