Edisi Bogor — 29 October 2026 • PemerintahWisataKuliner
Subscribe Sign In
Berita dan Review Bogor | Sejak 2020

Fenomena “Mantab” Makin Terlihat, Porsi Tabungan Masyarakat Menyusut

Fenomena makan tabungan menguat, data BI tunjukkan porsi konsumsi naik dan porsi tabungan menyusut.

Redaksi · 8 October 2026, 04.39 WIB
Makan Tabungan

Fenomena “mantab” atau “makan tabungan” semakin terlihat ketika masyarakat menggunakan sebagian simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Data Bank Indonesia menunjukkan porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat, sementara porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan menurun.

Kondisi tersebut terutama menjadi perhatian bagi masyarakat dengan pendapatan dan simpanan yang relatif terbatas. Ketika kebutuhan rutin meningkat, tabungan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan darurat atau tujuan jangka panjang ikut terpakai untuk membiayai pengeluaran sehari-hari.

BACA JUGA: PHK Jawa Barat 2026 Tertinggi di Indonesia, 13.044 Pekerja Terdampak


Poin Penting

  • Porsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi naik dari 72,7% menjadi 74,2% pada Agustus 2026.
  • Porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8% menjadi 15,8%.
  • Rata-rata saldo rekening dengan simpanan di bawah Rp100 juta turun dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026.
  • Penurunan rata-rata saldo tersebut mencapai sekitar 45% dalam delapan tahun.
  • Salah satu strategi yang disarankan adalah menerapkan conscious spending, yakni menentukan tujuan penggunaan uang sebelum membelanjakannya.

Porsi Konsumsi Naik, Tabungan Makin Tertekan

Data Survei Konsumen Bank Indonesia Agustus 2026 menunjukkan perubahan pola penggunaan pendapatan masyarakat.

Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 72,7% menjadi 74,2% hanya dalam satu bulan. Pada periode yang sama, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8% menjadi 15,8%.

Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang turun tipis dari 10,5% menjadi 10,0%.

Secara sederhana, dari setiap Rp1 juta pendapatan, rata-rata sekitar Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk membayar cicilan atau utang, dan hanya sekitar Rp158 ribu yang disisihkan untuk tabungan.

Perubahan tersebut menunjukkan semakin kecilnya ruang bagi masyarakat untuk membangun simpanan setelah memenuhi kebutuhan konsumsi dan kewajiban finansial.

Rata-Rata Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun 45%

Tekanan terhadap tabungan juga terlihat dari data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas).

Meskipun total simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta masih mengalami pertumbuhan, rata-rata saldo per rekening justru mengalami penurunan.

Rata-rata saldo tersebut turun dari sekitar Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026.

Periode

Rata-rata saldo rekening

2018

Rp3,1 juta

Mei 2026

Rp1,7 juta

Penurunan

sekitar 45%

Penurunan ini menggambarkan bahwa pertumbuhan jumlah atau total simpanan tidak selalu berarti setiap individu memiliki saldo yang semakin besar.

Bagi kelompok masyarakat dengan simpanan relatif kecil, tabungan dapat semakin mudah tergerus ketika pendapatan bulanan tidak sepenuhnya mampu menutup kebutuhan rutin.

Mengapa Tabungan Bisa “Dimakan”?

Head of Investment & Insurance DANA Group Ivan Kusuma mengatakan berkurangnya saldo tabungan tidak selalu disebabkan oleh pengeluaran untuk hiburan atau konsumsi gaya hidup.

Menurutnya, persoalan juga dapat muncul ketika uang untuk kebutuhan sehari-hari, dana darurat, dan tujuan masa depan ditempatkan dalam satu rekening tanpa pembagian yang jelas.

“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat.”

Dalam kondisi tersebut, uang yang sebenarnya diperuntukkan bagi kebutuhan jangka panjang dapat terlihat seperti dana yang tersedia untuk dibelanjakan.

Conscious Spending sebagai Strategi Mengelola Pengeluaran

Ivan menyarankan pendekatan conscious spending, yaitu menentukan terlebih dahulu tujuan penggunaan uang sebelum melakukan pengeluaran.

Menurut dia, masyarakat tidak harus memangkas seluruh pengeluaran. Yang lebih penting adalah membuat keputusan pengeluaran berdasarkan prioritas dan kemampuan finansial.

“Conscious spending intinya adalah menentukan dulu untuk apa uang akan dipakai, sebelum uang itu dibelanjakan.”

Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan rutin, tabungan, investasi, hiburan, dan kewajiban finansial dapat diberikan porsi masing-masing.

5 Cara Mencegah Tabungan Terus Terpakai

1. Kenali ke mana uang pergi

Pengeluaran kecil atau micro-spending seperti jajan, parkir, biaya langganan aplikasi, hingga transaksi harian sering kali terlihat tidak signifikan jika dilihat satu per satu.

Namun, akumulasinya dapat menjadi cukup besar dalam satu bulan.

Mengevaluasi riwayat transaksi dapat membantu menemukan pola pengeluaran dan membedakan kebutuhan yang masih diperlukan dengan pengeluaran yang dapat dikurangi.

2. Tentukan prioritas dan alokasi uang

Membuat anggaran tidak harus menggunakan satu pola yang sama untuk semua orang. Besarnya kebutuhan, pendapatan, utang, serta tujuan finansial setiap individu berbeda.

BACA JUGA: Bogor Great Mall Resmi Dibuka, Ini Tenant dan Konsep Barunya

Karena itu, alokasi uang perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Dalam ekosistem DANA, misalnya, pengguna dapat memanfaatkan sejumlah fitur untuk tujuan finansial, termasuk DANA Goals, DANA eMAS, dan DANA+, sesuai fitur dan kriteria yang berlaku.

3. Terapkan prinsip “pause, bukan pantang”

Keinginan membeli sesuatu yang bukan kebutuhan mendesak tidak selalu harus langsung ditolak.

Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memberikan jeda, misalnya selama 24 jam, sebelum mengambil keputusan.

Jeda tersebut dapat membantu membedakan kebutuhan dengan keinginan sesaat sekaligus mengurangi risiko pembelian impulsif.

4. Gunakan cicilan secara terukur

Cicilan tidak selalu menjadi masalah apabila digunakan secara terencana dan disesuaikan dengan kemampuan membayar.

Hal yang perlu diperhatikan adalah besarnya cicilan, kemampuan pendapatan untuk membayarnya, serta tujuan penggunaan dana.

Bagi pengguna yang memenuhi kriteria, fitur seperti DANA Cicil dapat digunakan untuk membagi pembayaran secara bertahap sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Tetap sisihkan uang untuk menikmati hidup

Mengelola keuangan bukan berarti seluruh pendapatan harus dialokasikan untuk kebutuhan wajib dan tabungan.

Memberikan ruang untuk hiburan, rekreasi, atau aktivitas yang disukai juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan keuangan yang realistis.

Kuncinya adalah memastikan pengeluaran tersebut tetap berada dalam anggaran sehingga tidak mengambil porsi yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting atau tabungan.

Fenomena “Mantab” dan Tantangan Keuangan Rumah Tangga

Fenomena “mantab” menunjukkan tantangan yang muncul ketika pertumbuhan kebutuhan konsumsi lebih cepat daripada kemampuan masyarakat mempertahankan tabungan.

Data Bank Indonesia memperlihatkan porsi konsumsi meningkat sementara porsi tabungan menurun. Di sisi lain, data Perbanas menunjukkan rata-rata saldo rekening dengan simpanan di bawah Rp100 juta juga mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Karena itu, persoalan pengelolaan keuangan tidak semata-mata mengenai mengurangi belanja. Yang tidak kalah penting adalah memisahkan uang berdasarkan tujuan, mengenali pola pengeluaran, dan memastikan kebutuhan hari ini tidak terus mengorbankan keamanan finansial di masa depan.

FAQ

Apa itu fenomena “mantab”?
“Mantab” merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang menggunakan tabungan atau simpanannya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebelum menerima pendapatan berikutnya.

Berapa porsi pendapatan masyarakat untuk konsumsi pada Agustus 2026?
Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi mencapai 74,2%, naik dari 72,7% pada bulan sebelumnya.

Berapa porsi pendapatan yang ditabung?
Pada Agustus 2026, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan tercatat 15,8%, turun dari 16,8%.

Berapa penurunan rata-rata saldo rekening di bawah Rp100 juta?
Rata-rata saldo turun dari sekitar Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026, atau menyusut sekitar 45%.

Apa yang dimaksud conscious spending?
Conscious spending adalah pendekatan pengelolaan keuangan dengan menentukan tujuan dan prioritas penggunaan uang sebelum melakukan pengeluaran.


Sumber: Survei Konsumen Bank Indonesia Agustus 2026 dan data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas).