Edisi Bogor — 29 October 2026 • PemerintahWisataKuliner
Subscribe Sign In
Berita dan Review Bogor | Sejak 2020

Mahasiswa IPB University Kembangkan SiMata, Skrining Awal NAPZA Berbasis AI Lewat Respons Pupil

Mahasiswa IPB kembangkan SiMata, alat skrining awal NAPZA berbasis AI lewat respons pupil mata.

Redaksi · 6 October 2026, 12.20 WIB

Reviewbogor.com  — Lima mahasiswa IPB University merancang SiMata, sistem pemeriksaan awal nonmedis untuk mendeteksi penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (NAPZA) menggunakan analisis respons pupil mata dan kecerdasan buatan (AI).

Inovasi ini bertujuan menghadirkan alat skrining yang lebih cepat, terjangkau, dan tidak invasif dibanding metode konvensional.

BACA JUGA: Mahasiswa UI Raih Dua Penghargaan Internasional Lewat Riset Risiko Paparan Merkuri pada Anak


Poin Penting

  • Dikembangkan oleh 5 mahasiswa IPB University, diketuai Dwina Sarah Diva
  • Teknologi berbasis analisis respons pupil mata menggunakan kamera internal dan algoritma convolutional neural network (CNN)
  • Hasil skrining dikelompokkan menjadi 3 kategori: aman, perlu pemeriksaan lanjutan, dan perlu perhatian
  • Mendapat pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) 2026
  • Tim menuju ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) pada November 2026

Darurat Penyalahgunaan NAPZA di Indonesia

Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN), prevalensi penyalahgunaan narkoba pada 2023 mencapai 1,73 persen dari total penduduk usia 15–64 tahun, atau setara sekitar 3,33 juta jiwa.

Dwina Sarah Diva, perwakilan tim, menjelaskan bahwa perubahan perilaku akibat penyalahgunaan zat sering kali terlambat dikenali karena dianggap sebagai hal biasa.

“Di lapangan, perubahan perilaku seperti emosi tak stabil atau menurunnya kendali diri kerap dianggap sekadar ‘kenakalan remaja biasa’, sehingga indikasi paparan zat terlambat disadari dan penanganannya menjadi kurang optimal,” ujarnya.

Keterbatasan Metode Deteksi Konvensional

Metode deteksi NAPZA yang selama ini digunakan — seperti tes urine, darah, rambut, dan saliva — dinilai memiliki sejumlah keterbatasan, mulai dari akurasi, jendela waktu deteksi, hingga kebutuhan fasilitas khusus.

“Sifatnya yang invasif dan berbiaya tinggi membuat metode ini sulit diterapkan secara rutin dan berkala di lingkungan sekolah maupun kampus,” tambah Dwina.

BACA JUGA: Bukan Jalan Pintas Turunkan Berat Badan, Ini Risiko Muntahkan Makanan Menurut Dokter IPB University

Cara Kerja SiMata: Pupil sebagai Indikator

Gagasan SiMata berpijak pada temuan riset bahwa paparan zat psikoaktif memengaruhi diameter pupil secara spesifik dan cepat. Sistem ini bekerja melalui tahapan berikut:

  1. Kamera internal merekam respons pupil terhadap stimulus cahaya
  2. Citra diolah melalui algoritma CNN untuk mengenali pola dinamis perubahan ukuran pupil
  3. Hasil dikategorikan ke dalam tiga tingkat: aman, perlu pemeriksaan lanjutan, atau perlu perhatian
  4. Data individu yang telah dianonimkan dirancang untuk diintegrasikan ke basis data nasional

Dwina menegaskan bahwa SiMata diposisikan murni sebagai instrumen skrining awal, bukan sebagai alat diagnosis akhir maupun pengganti tes medis formal.

Langkah Menuju Implementasi

Tim pengembang telah melakukan audiensi dengan BNN Kabupaten Bogor dan menjalin kemitraan dengan SMK Pembangunan untuk produksi video edukatif terkait inovasi ini.

“Melalui inovasi ini, kami berharap dapat menghadirkan alat skrining awal yang noninvasif, cepat, dan lebih terjangkau untuk mendukung deteksi dini di sekolah maupun kampus,” harap Dwina.

Selain Dwina, tim pengembang SiMata terdiri dari Fahriatu Saidah, Citra Putri Marlin, Jihan Delly Naysilla, dan Najwa Alya Kamaludin, dengan bimbingan Dr. Medhanita Dewi Renanti.