Kampung Budaya Sindangbarang: Wisata Adat Sunda di Kaki Gunung Salak
Mengenal rumah adat, kesenian, dan tradisi Sunda di Kampung Budaya Sindangbarang, kaki Gunung Salak.

Di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, terdapat sebuah kampung yang berupaya menjaga tradisi Sunda tetap hidup. Namanya Kampung Budaya Sindangbarang, kawasan wisata budaya yang menampilkan rumah adat, kesenian, dan upacara tradisional di kaki Gunung Salak.
Bagi warga Jabodetabek, tempat ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata alam pada umumnya. Pengunjung bisa melihat langsung bagaimana masyarakat Sunda menata kampung, menyimpan padi, hingga merayakan panen.
BACA JUGA: Tugu Kujang Bogor: Sejarah, Makna Simbol, dan Cara Menuju ke Sana
Sejarah Singkat Sindangbarang
Permukiman Sindangbarang diyakini sudah ada sejak masa Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dalam Pantun Bogor, kampung ini disebut sebagai bagian dari wilayah kerajaan tersebut, dan sejumlah tokoh setempat dipercaya memiliki garis keturunan dari raja-raja Pajajaran.
Sebagai kawasan wisata budaya, Kampung Budaya Sindangbarang mulai dikembangkan pada 2006. Pada tahun yang sama, masyarakat setempat menghidupkan kembali upacara Seren Taun yang disebut sempat tidak digelar selama sekitar 35 tahun.
Bangunan Adat yang Bisa Dilihat
Kampung ini menghadirkan sejumlah bangunan yang masing-masing memiliki fungsi dalam kehidupan adat Sunda:
- Imah gede, rumah adat yang menjadi kediaman ketua adat atau pupuhu sekaligus tempat sejumlah ritual.
- Leuit, lumbung tempat menyimpan padi, termasuk padi yang dianggap sakral dalam upacara adat.
- Bale pangriungan, balai yang digunakan untuk berkumpul dan pelaksanaan sejumlah rangkaian adat.
- Saung tatalu, tempat pertunjukan kesenian yang menghibur warga saat acara berlangsung.
Keberadaan leuit menjadi pengingat pentingnya padi dalam budaya agraris Sunda. Lumbung ini bukan sekadar gudang, melainkan simbol ketahanan pangan dan rasa syukur atas hasil bumi.
Seren Taun, Puncak Tradisi Tahunan
Seren Taun adalah upacara adat yang digelar setahun sekali sebagai ungkapan syukur atas hasil panen padi dan harapan agar panen berikutnya lebih baik. Secara tradisi, upacara ini berkaitan dengan penghormatan kepada Nyi Pohaci, sosok yang dalam kepercayaan Sunda dikaitkan dengan kesuburan padi.
Dalam bentuknya yang sekarang, Seren Taun di Sindangbarang dimaknai sebagai syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan memadukan unsur adat dengan nilai keislaman. Rangkaiannya berlangsung beberapa hari, dengan puncak berupa prosesi memasukkan padi ke dalam leuit.
BACA JUGA: Panduan Lengkap ke Kebun Raya Bogor: Jam Buka, Tiket, Akses, dan Spot Menarik
Kesenian yang Ditampilkan
Selama rangkaian acara, berbagai kesenian Sunda biasanya ikut ditampilkan, seperti rampak kendang, angklung gubrag, reog, dan kendang pencak.
Aktivitas untuk Pengunjung
Di luar momen Seren Taun, Kampung Budaya Sindangbarang juga mengenalkan budaya Sunda melalui sejumlah kegiatan, antara lain:
- Melihat koleksi dan penjelasan sejarah kampung.
- Mencoba permainan tradisional.
- Menyaksikan latihan pencak silat dan tari tradisional.
- Menjelajah situs-situs bersejarah di sekitar kampung.
Kegiatan semacam ini cocok untuk rombongan sekolah, keluarga, maupun komunitas yang ingin mengenal budaya lokal secara langsung.
Tips Sebelum Berkunjung
- Hubungi pengelola terlebih dahulu untuk menanyakan jadwal kegiatan, paket kunjungan, dan biaya terbaru.
- Jika ingin menyaksikan Seren Taun, pantau pengumuman jadwalnya karena tanggal pelaksanaan bisa berbeda setiap tahun.
- Kenakan pakaian sopan dan ikuti arahan pemandu, terutama saat berada di area yang digunakan untuk ritual.
- Siapkan perlengkapan hujan karena kawasan kaki Gunung Salak cenderung sejuk dan lembap.
Bagi pembaca yang tertarik dengan jejak Pajajaran, kunjungan ke Sindangbarang dapat dipadukan dengan Prasasti Batutulis di Kota Bogor. Keduanya memberi gambaran tentang akar budaya Sunda yang masih terasa di Bogor hingga kini.
Foto utama: Iqro Rinaldi, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
