Kenapa Bogor Disebut Kota Hujan? Ini Sejarah dan Faktanya
Asal-usul julukan Kota Hujan untuk Bogor, sejarahnya, dan fakta soal curah hujan di kota ini.

ReviewBogor.com- Kalau mendengar nama Bogor, yang pertama terlintas di kepala banyak orang biasanya satu hal: hujan. Julukan Bogor Kota Hujan sudah melekat begitu kuat, sampai-sampai warga Jabodetabek terbiasa membawa payung setiap kali berkunjung ke kota ini, meski langit pagi terlihat cerah.
Tapi kenapa Bogor disebut Kota Hujan? Apakah benar Bogor jadi kota paling sering hujan di Indonesia? Yuk, kita bahas penyebab, sejarah, dan fakta menariknya.
BACA JUGA: Panduan Lengkap ke Kebun Raya Bogor: Jam Buka, Tiket, Akses, dan Spot Menarik
Seberapa Sering Hujan di Bogor?
Julukan Kota Hujan bukan sekadar label. Data menunjukkan curah hujan rata-rata di Kota Bogor berada di kisaran 3.500 sampai 4.000 mm per tahun. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang menurut BMKG sekitar 2.898 mm per tahun.
Bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, curah hujan Kota Bogor tercatat mencapai 4.812,2 mm dalam setahun. Dengan angka tersebut, Bogor masuk jajaran enam besar daerah dengan curah hujan tertinggi di Indonesia sekaligus menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa.
Puncak musim hujan di Bogor biasanya terjadi pada Desember dan Januari. Pada periode ini, hujan bisa turun hampir setiap hari, terutama di siang menjelang sore.
4 Penyebab Bogor Sering Hujan
1. Dikelilingi Pegunungan
Bogor berada di kaki Gunung Salak dan berdekatan dengan kawasan Gunung Gede-Pangrango. Saat udara lembap bergerak dan menabrak lereng gunung, udara terdorong naik, mendingin, lalu membentuk awan hujan. Fenomena ini dikenal sebagai hujan orografis, dan menjadi salah satu alasan utama Bogor lebih basah dibanding kota-kota di sekitarnya.
2. Ketinggian dan Kelembapan Udara
Kota Bogor berada di ketinggian sekitar 190 sampai 330 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata sekitar 26 derajat Celsius dan kelembapan udara sekitar 70 persen. Udara yang lembap ini menyimpan banyak uap air, sehingga awan hujan mudah terbentuk.
3. Pemanasan Siang yang Memicu Hujan Sore
Pernah perhatikan kalau hujan di Bogor sering turun di sore hari? Itu karena pemanasan matahari sejak pagi membuat udara lembap naik dengan cepat. Akibatnya terbentuk awan tebal (kumulonimbus) yang biasanya pecah menjadi hujan deras di siang menjelang sore. Pola inilah yang membuat warga Bogor hafal: pagi cerah, sore hujan.
4. Berada di Jalur Pertemuan Massa Udara
Secara geografis, Bogor juga berada di wilayah yang dipengaruhi Daerah Konvergensi Antar Tropis (DKAT), yaitu zona pertemuan massa udara dari belahan bumi utara dan selatan. Kondisi ini ikut menambah intensitas hujan di kawasan tersebut.
Sejarah Julukan Kota Hujan
Julukan Kota Hujan ternyata sudah dikenal sejak masa kolonial Belanda. Dulu, Bogor bernama Buitenzorg, yang dalam bahasa Belanda kurang lebih berarti “tanpa kekhawatiran”. Nama ini mencerminkan fungsi Bogor kala itu sebagai tempat peristirahatan pejabat Hindia Belanda yang ingin menjauh dari panas dan hiruk-pikuk Batavia.
BACA JUGA: Tugu Kujang Bogor: Sejarah, Makna Simbol, dan Cara Menuju ke Sana
Iklim yang sejuk dan basah juga membuat Bogor ideal untuk penelitian tanaman. Tidak heran jika di kota ini berdiri Kebun Raya Bogor pada tahun 1817, yang hingga kini menjadi salah satu kebun botani tertua di Asia Tenggara. Curah hujan tinggi membuat ribuan koleksi tanaman tropis bisa tumbuh subur di sini.
Warisan kolonial seperti Istana Bogor dan Kebun Raya, dipadukan dengan suasana kota yang sering basah oleh hujan, akhirnya membentuk identitas Bogor sebagai Kota Hujan yang bertahan sampai sekarang.
Faktanya, Bogor Bukan yang Paling Basah di Indonesia
Meski terkenal sebagai Kota Hujan, Bogor ternyata bukan daerah dengan curah hujan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data BPS 2024, posisi puncak justru ditempati Kabupaten Mimika, Papua, dengan curah hujan mencapai 6.610,5 mm per tahun. Di bawahnya ada Padang Pariaman, Luwu Utara, Kapuas Hulu, dan Boven Digoel.
Jadi, julukan Kota Hujan lebih tepat dibaca sebagai: Bogor adalah kota dengan hujan paling intens dan konsisten di Pulau Jawa, yang dirasakan langsung oleh jutaan orang setiap harinya.
Tips Liburan ke Bogor Saat Musim Hujan
Buat kamu yang mau main ke Bogor, terutama di periode November sampai Februari, beberapa tips ini bisa membantu:
- Berangkat pagi. Aktivitas luar ruang paling nyaman dilakukan sebelum jam 12 siang, karena hujan biasanya turun siang menjelang sore.
- Selalu bawa payung atau jas hujan, meski langit pagi terlihat cerah.
- Cek prakiraan cuaca BMKG sebelum berangkat, terutama kalau berencana ke kawasan Puncak.
- Hindari curug dan sungai saat hujan deras. Debit air bisa naik tiba-tiba dan berbahaya.
- Siapkan rencana cadangan indoor, seperti kuliner atau nongkrong di kafe dengan view gunung yang justru makin syahdu saat hujan.
Seputar Bogor Kota Hujan
Kenapa Bogor disebut Kota Hujan? Karena curah hujannya sangat tinggi, rata-rata 3.500 sampai 4.000 mm per tahun, dipengaruhi letaknya di kaki pegunungan, kelembapan udara tinggi, dan posisinya di zona pertemuan massa udara.
Apakah Bogor kota dengan curah hujan tertinggi di Indonesia? Tidak. Berdasarkan data BPS 2024, Bogor ada di peringkat enam besar nasional, tapi menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa. Peringkat pertama ditempati Kabupaten Mimika, Papua.
Kapan puncak musim hujan di Bogor? Umumnya pada bulan Desember dan Januari.
Apa nama Bogor zaman Belanda? Buitenzorg, yang dulu difungsikan sebagai kawasan peristirahatan pejabat Hindia Belanda.
Referensi data: BPS 2024 via GoodStats dan detikEdu; BMKG via Good News From Indonesia; Mongabay Indonesia.
